Reguk Ludah-Ludah Busuk
Karya Fatmawati
Pagi teriak
Dari gelap menangis, menggigil, memucat
Hingga temu subuh kecewa
Hingga temu embun derita
Inginku mereka segera tiada
Hidup yang lain menggenggam mawar
Hidup diri menelan durinya
Negeri berselimut bunga
Namun harumnya tak sampai
Namun indahnya enggan menderai
Kita hanya anak tiri
Berdiri tinggi di kota keriput
Tapi tak mampu menyentuh langit
Berteman kusam jalanan
Bertahan makan debu polutan
Sudah biasa reguk ludah-ludah busuk
Karena nyatanya bocah-bocah masih mencangkung di pinggiran metro
Bukan beratribut lengkap dan rapi
Hanya berkain usang yang disambung kembali
Februari Menulis Hari Kedua
Buntok, 2 Februari 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar