Wahai membulanku
Jendela tercinta sebagai saksi duduk lamunmu
Dengan mata memeluk anak yang beranjak dewasa
Mengayun-ayunkan kaki, berbincang, dan bernyanyi
Hingga jiwa menari ke kanan dan ke kiri
Kenang masa bahari dengan isak tersenyum
Kenang malam penuh nyanyian bayi
Kenang siang raga mampukan diri
Tak terasa aku sudah bisa berlari
Tulus petuah mengbingkai hati
Sedari dulu dekapmu obat terampuh redam amarahku
Kasihmu tak kan sampai pada tanda titik
Bahkan tak pernah bertemu tanda koma
Pernah ku dengar doamu untukku menembus langit
Tanpa jeda jadikanku permata hidupmu
Di hening malam nan sunyi tanpa dirimu
Tak kuasa tangisku berderai
Teringat cinta kasih dan perjuanganmu
Ampuniku karenabelum sempat beri bahagia
Bahkan tak sedikit kecewa kutoreh pada dadamu
Sadarku bahwa engkau cahaya hidupku
Kan kugunakan sisa waktu tuk peluk tulang keriputmu
Membulanku, cahayaku