Selasa, 21 September 2021

Dengan Bedukang Aku Bernyawa

 

Dengan Bedukang Aku Bernyawa

Karya Fatmawati

 

Beranjak pergi sebelum datang mentari

Tiap hari kayuh jengki 96

Bawa bedukang ke muara pekan

Harap tangan ramah tersenyum

Harap mata degup bicara

Pungut cita tuk ananda

Cari nafkah seorang jasa

 

Tak singgah tak mengapa

Bukan rezeki tak bisa dipaksa

Ratap hati tak mampu berdusta

Beras sayur sudah tak bersisa

 

Keringat membasuh diri

Kasih terik di tengah hari

Lalu-lalang sudah menyepi

Pulang mengadu pada Ilahi

Walau sedikit moga diberkahi

Usaha lagi pada senja berduri

 

Dengan bedukang aku bernyawa

Menyisir malam memagut asa

Teriak rintik tenangkan pilu

Bukan

Bukan aku,

Aku kenyang mereguk hujan

Namun, setiap malam ada jiwa menunggu

Harap ibu kabul dahaga merindu

Bulan nan Syahdu

 

Bulan nan Syahdu

Karya Fatmawati

 

Kan kupeluk kau kembali

Kau perindang zaman berpolusi

Kau senandung konflik pada bumi

Bulan peneduh, berkah, dan suci

Denganmu dekap takwa berselimut ibadah

Siang-malam ampar sajadah

Puasa, tahan nafsu meruncah

Tarawih, salat malam obat gelisah

Kuliah subuh, penguat iman nan lelah

 

Ku bersimpuh kau kembali

Siponggang dzikir mengkaki langit

Salawat menari hiasi telinga

Mengadu doa penuh umpah

Tuk basuh hati berdebu

Tuk balut dosa beribu

Hingga raga tergopoh

Bahkan afkir membisu

Yaa Ghaffar

Belum sarat amal dan pahala

Diri bertopang tulang menua

 

Kan kutunggu kau kembali

Tiga puluh hari memadu kasih

Tasbih melingkar di kulit puih

Tak terganti walau riak Sang Syawal

Tetap merindu Bulan nan Syahdu

Satu Darah

 

Satu Darah

Karya Fatmawati

Tersandar pada rayu paksa darah sekebat

Kau menggila koyak birahi pada sabitah tanah

Tanpa terjamah belas kasih nestapaku pun menyimpul tambatan bulir-bulir desah

Geloramu tak berkesudah mengupak sekuntum sutra dalam darah

 

Sudah susah

Kau taburi lagi racun bernyawa

Sudah bernanah

Kau gelugut lagi putih di mata

Hingga kuterlena dalam akal yang telah tiada

Hingga peranakanku berbelusuk

Hingga rahimku terlepas dari pertubuhan

 

Kuat bertopang pada gamitan isak perempuan sorgaku

Dalam kelu kekalnya aku bergelebah

Dalam pagutnya aku amuk meracau

 

Gilamu gila neraka

Tak cukupkah saf balur hingga tiammu mengelus nyawa membulanku

 

Kadang igauku menggelegak

Tanpa rengkuhan berbisik sendiri

Hingga paru berhenti tinggalkan puri

BUNGA LUMPUR

 

BUNGA LUMPUR

Karya Fatmawati

Sebagian mata tang sudi menatap

Sebagian warna tak minat melekat

Sebagian kepala tak ingin berpaling

Bahkan kupu-kupu tak tertarik tuk hinggap

 

Hanya bunga lumpur

Mengapung

Di keruh lembut kaca

Bertahan dengan pelangi mesra

Gelombang hiasi melodi mekarnya

 

Hanya bunga lumpur

Alunan cahaya semangat sayup malu sang Lotus

 

Dia

Bunga lumpur

 

TIMANGAN PASAR TERAPUNG

 

TIMANGAN PASAR TERAPUNG  

Karya Fatmawati

Memeluk subuh

Dalam bawah sadar sebagian napas yang tenang

Matahari belum mampu alunkan nada

Dengan angin masih menggigil

Berselimut embun

 

Memeluk subuh

Beranjak sepi mencari rezeki

Pada sungai menimang kayu-kayu merapat

Rajut tali budaya yang mulai bungkam

Di tengah tawa yang lupa bagaimana cara tersenyum

 

Memeluk subuh

Penuh harap akan rida dan berkah Sang Razzaq

Belum Mendamba

Belum Mendamba Karya Fatmawati Kelam kabut suasana ruang renggang papan Karena sang maha tiba termin berjumpa Lihatlah, kau anggap diri pela...